Kamis, 11 April 2013

makalah sejarah peradaban islam

MAKALAH

PELETAKAN DASAR-DASAR PERADABAN ISLAM DI MAKKAH


Makalah ini disusun guna memenuhi mata kuliah Sejarah Peradaban Islam. Dosen pengampu :

Mibtadin Anis, M.Ag








Disusun oleh:
1.    Ambar sari (123111026)
2.    Ameylia Nur A (123111027)
3.    Ana Saraswati (123111028)


PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN BAHASA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
TAHUN 2013/2014
A.    ARAB PRA ISLAM
Secara global-teritorial, Arab merupakan negeri yang terletak di semenanjung Arab yang berbatasan dengan  Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah Barat, Samudera Hindia di sebelah Selatan, Teluk Persia di sebelah Timur serta Gurun Irak dan Syira di sebelah utara. Arab dibagi menjadi dua bagian besar yaitu bagian tengah atau pedalaman dan pesisir atau tepi, tetapi mereka lebih banyak mendiami daerah pesisir dari pada daerah pedalaman. Pada umumnya penduduk yang tinggal di daerah pedalaman tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain guna mencari tempat yang subur yang terdapat banyak air dan rumput. Sedangkan penduduk yang tinggal di daerah pesisir hidupnya menetap di kota-kota atau daerah-daerah yang subur dengan mata pencarian bertani, berdagang dan industri.
Bangsa Arab sebelum islam, hidup bersuku-suku atau berkabilah dan berdiri sendiri-sendiri. Mereka tidak mengenal rasa ikatan nasional, yang ada pada mereka hanyalah ikatan kabilah. Karena itu sering terjadi perang antar suku atau kabilah di Arab.  Ikatan kabilah berdasarkan pertalian darah, pernikahan, ikatan politik dan sumpah setia. Di antara kabilah-kabilah yang ada, terdapat kabilah yang mempunyai status sosial yang tinggi seperti, kabilah Quraisy di Makkah, kabilah Auz dan Hazraj di yatsrib. Hal itu di karenakan mereka menekankan hubungan kesukuan mereka, maka kesetiaan dan solidaritas merupakan sumber kekuatan suatu suku atau kabilah. Hal ini diwujudkan dalam perlindungan kabilah atas seluruh anggotanya.
Kepercayaan bangsa Arab sebelum lahirnya Islam, mayoritas penduduk mengikuti agama nabi Ibrahim as.  Agama tersebut di sebut hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui Allah sebagai pencipta alam, yang menghidupkan dan yang mematikan serta yang memberi rizki. Setelah munculnya Amr bin Lubayyi AL-Khuzai (Pemimpin Bani Khuza’ah) penduduk Arab melalaikan ajaran Ibrahim dan mengikuti ajaran Amr bin Lubayyi yang menyembah berhala. Dia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Disekitar Ka’bah banyak terdapat berhala-berhala yang besar maupun yang kecil. Diantara berhala-berhala yang besarada yang bernama Latta (dikota Thaif), Uzza (dikota Hijaz), dan Manah (dikota Yastrib/Mdinah).
Setelah itu, kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz. Selain itu muncul juga tradisi buruk masyarakat seperti :
1.    Perjudian atau maisir. Ini merupakan kebiasaan penduduk di daerah perkotaan di Jazirah Arab, seperti Mekkah, Thaif, Shan’a, Hijr, Yatsrib, dan Dumat al Jandal.
2.    Minum arak (khamr) dan berfoya-foya. Meminum arak ini menjadi tradisi di kalangan saudagar, orang-orang kaya, para pembesar, penyair, dan sastrawan di daerah perkotaan.
3.    Nikah Istibdha’, yaitu jika istri telah suci dari haidnya, sang suami mencarikan untuknya lelaki dari kalangan terkemuka, keturunan baik, dan berkedudukan tinggi untuk menggaulinya.
4.    Mengubur anak perempuan hidup-hidup jika seorang suami mengetahui bahwa anak yang lahir adalah perempuan. Karena mereka takut terkena aib karena memiliki anak perempuan.
5.    Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan mereka alami.
6.    Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang memujinya.
7.    Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung.
8.    Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur.
9.    Fanatisme kabilah atau kaum.
10.    Berperang dan saling bermusuhan untuk merampas dan menjarah harta benda dari kaum lainnya. Kabilah yang kuat akan menguasai kabilah yang lemah untuk merampas harta benda mereka.
11.    Orang-orang yang merdeka lebih memilih berdagang, menunggang kuda, berperang, bersyair, dan saling menyombongkan keturunan dan harta. Sedang budak-budak mereka diperintah untuk bekerja yang lebih keras dan sulit.
Beberapa contoh tradisi dan penyembahan berhala yang mereka lakukan, seperti :
1.    Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit dihadapannya, meminta pertolongan tatkala kesulitan, berdo’a untuk memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat disisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
2.    Mereka menunaikan Haji dan Thawaf disekeliling berhala, merunduk dan bersujud dihadapannya.
3.    Mereka mengorbankan hewan sembelihan demi berhala dan menyebut namanya.
Namun selain menyembah berhala ada beberapa kabilah yang menganut agama Yahudi, Masehi, Majusi, dan Shabi’ah.  Penduduk Yaman dan Syam merupakan pemeluk agama Masehi, penduduk Yahudi imigran di Yaman dan Yatsrib merupakan pemeluk agama Yahudi, penduduk yang tinggal berdekatan dengan Persia, orang Arab Iraq dan bahrain serta wilayah pesisir teluk arab memeluk agama Majusi, sedangkan agama Shabi’ah berkembang di Iraq. Dan yang lainnya dianggap sebagai kaum agama Ibrahin chaldeans, banyak penduduk syam dan Yaman yang memeluknya. Setelah kedatangan agama Yahudi dah Nasrani, agama Shabi’ah mulai surut.  Banyak penganut agama Yahudi yang mendirikan koloni di sekitar jazirah Arab, di antaranya adalah Yatsrib. Walaupun demikian, mayoritas bangsa Arab masih menganut agama asli mereka yaitu kepercayaan menyembah berhala.
Tradisi yang berkembang di zaman jahiliyah tidak sepenuhnya negatif.  Menurut Ibnu Qarnas dalam Sunnat Al-Awwalin, tradisi jahiliyah juga memberikan sumbangsih yang sangat baik, khususunya dalam rangka mengantarkan masyarakat Arab dalam menerima ajaran agama Islam. Islam datang tidak dalam rangka menghadirkan sesuatu yang baru bagi mereka, tetapi justru melanjutkan tradisi yang berkembang di tanah Arab. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Al-Qur’an bahwa haji merupakan ritual yang awalnya dilakukan oleh nabi Ibrahim dan keluarganya.

B.    RIWAYAT HIDUP MUHAMMAD
1.    Muhammad sebelum kerasullannya
Muhammad lahir di Makkah pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah ( 570M ). Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul muthalib dan ibunya bernama Siti Aminah. Muhammad lahir dalam keadaan yatim , Ayahnya meninggal saat ia berusia 2 bulan dalam kandungan Ibunya. Muhammad disusukan pada salah seorang dari keluarga sa’d, hal tersebut merupakan kebiasaan para bangsawan di Arab.  Setelah dianggap cukup kuat badannya ia dikembalikan kepada ibunya.
Saat Muhammad berusia 4 tahun, Muhammad pernah dibelah dadanya oleh malaikat Jibril dan Mikail. Tujuan pembedahan tersebut agar beliau terhindar darisegala macam godaan hawa nafsu setan sejak masa kanak-kanaknya. Kemudian dilanjutkan dengan pembedahan berikutnya pada usia 10, 15, 40 dan terakhir saat beliau isra’ mi’raj.
Pada saat Nabi berusia 6 tahun, Ibunya meninggal dunia dan selanjutnya ia dididik oleh kakeknya, Abdul Mutholib. Namun tidak lama kemudian Abdul Mutholib meninggal dunia kemudian ia diasuh oleh pamannya, Abu Tholib. Abu Tholib memiliki banyak anak dan keluarganya kurang mampu sehingga muhammad tidak mau menjadi beban pamannya. Karena itu, sejak masa kanak-kanak ia berkerja menggembala kambing.
Pada usia 25 tahun, Muhammad berkerja pada Khotijah. Dengan kejujuran dan kemampuannya Muhammad mampu memperdagangkan barang-barang Khatijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan dari pada orang lain sebelumnya.  Karena itu Khatijah menaruh simpati pada Muhammad dan kemudian ingin menjadikan Muhammad sebagai suaminya.  Setelah kedua keluarga Muhammad dan Khotijah bertemu, mereka melangsungkan pernikahan.
Saat Muhammad berusia 35 tahun atau 10 tahun setelah pernikahannya dengan Khotijah, terjadi banjir besar yang mengakibatkan diding ka’bah runtuh dan hancur. Muhammad dan kaum Quraisy memperbarui bangunan ka’bah tersebut. Setelah selesai pembangunan ka’bah mereka meletakkan hajar aswad di tempat semula yaitu sudut dinding ka’bah sebelah timur. Dalam peletakan hajar aswad mereka berselisih antara kabilah satu dengan yang lain. Kemudian Abu Ummayah mengusulakan bahwa orang yang pertama kali memasuki ka’bah dan pintu bani Syaibahlah yang meletakkan hajar aswad. Dan orang itu adalah Muhammad, lalu Muhammad meminta sehelai kain kemudian kain itu dibentangkan lalu diletakkannya hajar aswad di atas kain tersebut. Muhammad meminta para pemuka dari kabilah untuk mengangkat hajar aswad ke tempatnya dan kemudian Muhammad meletakkan hajar aswad ke tempatnya dengan kedua tangannya. Kedudukan Muhammad bertambah tinggi karena kebijaksanaannya itu.
2.    Masa Kerasulan dan Dakwah Islam
Banyak alasan mengapa Muhammad merenungi nasib umatnya, itu semua karena banyak umatnya yang menyembah berhala, kemerosotan moral yang dilakukan kaum Jahiliyah. Beliau kemudian bertahanus menyepi di gua Hira’di puncak Jabal Nur di luar Makkah. Saat itu, malaikat Jibril pada tanggal 17 Ramadhan 611 M membawa wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5. Dengan begitu Muhammad pun diangkat menjadi Nabi. Setelah wahyu pertama turun, Jibril tidak muncul lagi dalam beberapa lama, Pada suatu hari terdengarlah suara dari langit, dan ternyata itu ialah malaikat Jibril. Melihat wujud asli malaikat Jibril, nabi ketakutan dan pulang dalam keadaan badanya gemetar. Sesampainya dirumah, beliau kemudian tidur sambil berkata kepada keluarganya:
“Selimutilah aku, Selimutilah aku!”
Dalam keadaan seperti ini, datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang kedua yaitu surat Al Muddattsir ayat 1-7.
“Hai orang yang berselimut! Bangun dan beri ingatlah ! hendaklah engkau besarkan Tuhan-mu! Dan bersihkanlah pakaianmu! Jauhilah perbuatan dosa! Janganlah engkau memberi, karena hendak mendapat balasan banyak! Hendaklah engkau sabar karena Tuhan-mu! (QS. Al-Muddattsir 1-7)
Ayat- ayat inilah yang mula-mula menyuruh Rasulullah menyeru kepada agama Allah dan dengan demikian mulailah fase-fase seruan kepada agama yang baru itu.
Orang yang pertama kali percaya pada kenabian dan kerasulan Muhammad adalah Khadijah. Dari sinilah da’wah nabi dilanjutkan pada keponakannya sendiri yang masih berusia 10 tahun yaitu Ali bin Abi Thalib yang melihat nabi dan Khadijah sedang shalat. Orang ketiga yang masuk islam ialah Zaid bin Haritsah, mantan budak yang menjadi anak angkat nabi. Ini adalah da’wah nabi secara diam-diam di kalangan keluarganya sendiri. Lalu disusul masuk islam Abu Bakar bin Abi Quhafah, Usman bin AffanZubair bin Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah,  Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah dan Al Arqam ibnu Abil Arqam. Orang yang mula-mula masuk Islam ini dijuluki “Assabiqunal Awwalun”. Beliau menjadikan rumah Arqom bin Abi al Arqom sebagai pusat pengajaran dan sekaligus pusat kutlah (kelompok) yang dalam bahasa kita tepatnya disebut sekretariat. Di tempat ini Rasulullah mengajarkan hukum-hukum Islam, membentuk kepribadian Islam serta membangkitkan aktivitas berpikir para sahabatnya tersebut. Beliau menjalankan aktivitas ini lebih kurang selama 3 tahun dan menghasilkan 40 orang lebih yang masuk Islam. Selain itu disebutkan pula hamba-hamba sahaya dan orang-orang miskin yang masuk Islam.
Da’wah nabi selanjutnya dilakukan secara terang-terangan sesuai wahyu Allah surat As-Syu’ara’ ayat 214.
وَاَنْذِ رْ عَشِيْرَ تَكَ اْلاَ قْرَ بِيءنَ
"Beri ingatlah familimu yang dekat-dekat". (QS. As-Syu’ara 214).
Maka Nabi menyeru Bani Abdul Munthalib, Bani Hasyim dan suku Quraisy. Sesudah mereka berkkumpul berkatalah Nabi:
“Menurut yang saya ketahui belum pernah seorang pemuda membawa sesuatu untuk kaumngya yang lebih utama dari apa yang saya bawa untuk kamu. Saya bawa untuk kamu segala kebaikan dunia dan akhirat.”
Mereka ada yang membenarkan perkataan itu dan masuk islam tapi ada pula yang menentangnya seperti orang kafir Qurausy yang selalu berusaha mengancam, menyiksa dan membunuh. Oleh karenanya Rasulullah pun menyuruh para sahabat-sahabat untuk mengungsi ke Abesinia. Ini merupakan hijrah pertama dalam islam pada tahun ke-5 dari kenabian.
Tidak lama kemudian nabi mengalami kejadian menyedihkan yaitu dengan meninggalnya 2 orang yang sangat dicintai dan menjadi tumpuan  yaitu Abu Thalib dan Khadijah. Tahun ini lalu disebut ‘Amul Khuzni yang berarti tahun kesedihan. Kemudian nabi pun berusaha menyiarkan islam di luar koya, tapi sesampainya di Thaif beliau malah diejek dan dilempari batu sampai terluka. Untuk menghibur nabi, Allah memperjalankan nabi pada malam tanggal 27 Rajab 621 M yang dikenal dengan nama Isra’m dan Mi’raj. Nabi diisra’kan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina kemudian dimi’rajkan ke Sidratul Muntaha untuk diperlihatkan surga dan neraka dan menghadap Allah menerima wahyu shalat 5 waktu.
Kemajuan da’wah islam berkembang pesat setelah adanya Isra’Mi’raj. Rasulullah mulai menyeru pada peziarah haji, suku Aus dan suku Khazraj. Pada tahun ke-12 kenabian suku Aus dan Khazraj datang ke Makkah membuat perjanjian yang pertama dengan nabi di Aqabah yaitu Bai’ah al-Aqabah al-Ula atau Bai’tun Nisa’. Isi perjanjiannya antara lain mereka tidak akan menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anaktidak fitnah dan tidak mendurhakai nabi Muhammad. Pada tahun ke-13 kenabian penduduk Yastrib melakukan perjanjian kedua yaitu Bai’ah al-Aqabah As-saniyah dengan isi antara lain mereka berjanji akan membela nabi dengan jiwa dan raga, mengangkat nabi sebagai pemimpin,dan berharap nabi mau hijrah ke Yastrib.
Nabi memerintahkan umatnya untuk hijrah ke Yastrib. Siasat pun dipersiapkan dengan Ali bin Abi Thalib sebagai umpannya, hingga kaum Quraisy terkecoh. Dalam perjalanan ke Yastrib, nabi membangun sebuah masjid di halaman rumah Kalsum bin Hindun yang bernama Masjid Quba’.Tanggal 12 Rabiul Awal nabi samai di Yastrib dan mengubah nama kota itu menjadi Madinah al-Munawwarah.



DAFTAR PUSTAKA
http://herminsyahri.wordpress.com/2008/12/05/metode-dakwah-rasulullah/
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/05/01/113860-tiga-cara-berdakwah
Asmuni, Drs. Yusran. 1996. Dirasah Islamiyah II. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Mufrodi, Dr. Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Ciputat: Logos Wacana Ilmu
Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam 1. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Prof. Dr. A. Syalabi. 2003. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta:PT. Pustaka Al Husna Baru
Ahnan Maftuh. 1422H. Kisah Kehidupan Nabi Muhammad SAW. Surabaya : Terbit terang Surabaya
Khoiriyah.  2012. Sejarah Islam. Yogyakarta : Teras
Haekal Husain. 2001. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta : PT.Mitra Karya Indonesia
Misrawi Zuhairi. 2009. Makkah. Jakarta : Kompas
Madjid, Narcholish. 2000. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Para-Madina

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar